A girl. 17. Do live in her wonderland. In a crazy love with a special boy. Dreaming is her favorite activity. Movie and music freak. Superb at talking and wishing that one day she would live in other amazing world.
( more..? )
poupee girl

[+] Follow Affies

Posted on: Wednesday, 4 July 2012 @ 21:00 | 0 comment(s)
A Rain Without Rainbow


OMG! It's tea time now!

Halo semua :D
Nggak kerasa saya sudah 2 tahun blogging :) Saya mulai blogging sejak Juni 2010 dan ternyata sudah sekitar 89 post yang ada di blog ini. Nggak kerasa sudah lumayan banyak. Dan sekarang, blog saya sudah dilihat lebih dari 5000 orang yeeeeeyyy *throw confetti* Oleh karena itu, saya ingin bikin satu entri yang rada beda dari entri yang lain. Hehe.

yeey :D

Jadi entri kali ini adalah cerita buatan saya yang seharusnya diikutin lomba, cuman gara-gara maksimal katanya harus 1000 kata, makanya saya nggak jadi ikutin berhubung cerita saya rada panjang. hohooo
Selamat membaca :))
 ---

 A Rain Without Rainbow



ARGHHH!

Deru Andre sambil menggebrak meja di depannya. Mata coklatnya menatap langit-langit kamarnya dengan putus asa. Masih belum menemukan jawaban dari masalahnya, ia pun kembali menatap layar komputernya. Kode-kode itu masih diam membisu. Sama sekali belum bertambah maupun berkurang.

“Huh. Mau dilihat berkali-kali, tetap saja nggak ada yang salah! Seharusnya, programnya jalan dong!”

Tangannya dengan lincah menambah huruf dan angka dalam layar komputernya. Sambil meneguk kopi susu kesukaannya, ia pun melanjutkan pekerjaannya. Mungkin bagi sebagian orang akan sangat aneh melihat keadaan cowok berkacamata berumur 16 tahun itu untuk bergadang hanya untuk berkutat dengan kode-kode aneh di komputer. Tapi bagi kalangan programmer, hal itu biasa. 

Andre mungkin masih bisa dibilang baru dalam hal ini, akan tetapi dalam segi bakat, Andre bisa dibilang jenius. Dua dari empat program yang ia ciptakan mendapat penghargaan dari perusahaan programming terkenal di Indonesia dan masih menjadi bahan bicara bagi sebagian kalangan. Berbeda dengan kehidupan sempurnanya, Andre hanyalah orang biasa di sekolahnya. Andre lebih suka menarik dirinya dan mencoba untuk menutup diri. Tidak heran bila kita lebih sering melihat Andre bersama dengan komputernya daripada dengan temannya. Andre juga tidak mempermasalahkan hal itu, menurutnya, lebih baik dia melakukan hal yang penting daripada harus bermain dan membuang waktu bersama teman.

“Oke, bagian lima sudah selesai.” ujar Andre sambil memencet-mencet tulang hidungnya “Sisanya buat besok saja”

Kata-kata itu pun menutup aktivitas malamnya.

--

“HOAAAM…”

Mulut Andre terbuka dengan lebar. Sambil terus menggosok matanya, Andre melanjutkan mengayuh sepedanya. Memang sudah menjadi rutinitas sehari-hari untuk Andre pergi ke sekolah dengan sepedanya. Andre bisa dibilang orang yang beruntung mempunyai rumah yang dekat dengan sekolah. 

“Bro, lu ngapain kemarin malam?”

Andre pun menoleh kepada sang pemilik suara. 

“Seperti biasa, ngeprogram. Tumben datang pagi, Son.”
“Kayak lu nggak pernah lihat gua datang pagi aja! Gua ada latihan lari nih buat lomba.” balas Soni. “Dre, lu sepertinya harus lebih perhatian ke gua deh, kalau lu lebih merhatiin komputer lu, satu-satunya sahabat lu bakal cemburu nih! Hahahahaha…”

Andre menatap Soni dengan tatapan kosong. Untuk menjauhkannya dari masalah, Andre pun mengangguk tanda mengiyakan. Soni adalah satu-satunya orang yang bisa berteman dengan Andre tanpa harus berbicara soal topik programming. Sebagai teman sejak dari kecil, cowok yang bakat lari ini sudah kenal Andre dalam luarnya. 

“Oh ya, Dre! Gua mulai hari ini sampai minggu depan nggak bakal bisa nemenin lu pulang sekolah. Biasa… harus latihan, Dre! Sori ya lu harus sendiri. Jangan kangen ma gua ya!“ goda Soni berharap Andre akan bergeming. “Oh ya, gua harus cepat-cepat nih, Dre! Kalau nggak, bisa dimarahin ketua klub! Dah, Dre!”

Soni mempercepat larinya meninggalkan Andre yang masih bersepeda. Memang, lari sang juara provinsi itu cepat sekali. Walaupun begitu, Andre sedari tadi tetap bergumul dengan pikirannya. Memikirkan apa yang harus dikerjakannya nanti sepulang sekolah.

--

Well, gua take a break dulu.” ucap Andre dengan puas. Ia melihat layar notebook putih yang dibawanya dari rumah. Pekerjaanya hampir selesai dan program yang dibuatnya sudah mau mencapai akhir. Memang beginilah Andre, selalu fokus kalau sudah berada di sekolah. Ia pun melangkahkan kakinya keluar kelas dan berjalan-jalan di sekitar sekolah. Andre paling suka keadaan sepi dan tenang saat pulang sekolah. Ia merasa tidak ada yang mengganggunya berkonsentrasi. Ia masih melihat klub atletik melakukan aktivitas mereka tanda Soni masih belum selesai latihan. Andre pun berbalik dan menuju ke kelasnya lagi.

Sesosok gadis berambut panjang berdiri di depan notebook Andre. Angin yang berasal dari jendela menyapu rambut coklat gadis itu dan cahaya matahari sore menambah keindahan pemandangan tersebut. Andre terdiam sesaat mengagumi pemandangan itu. Cantik sekali…

“Ah! Apa yang lu lakuin?”  tanya Andre dengan sedikit sinis.

Gadis itu pun terkaget dan menatap Andre. Matanya lurus melihat Andre dan keadaan itu memberi mereka berdua jeda sejenak. “Ngg… Aku nggak bermaksud buat lancang tapi apa yang ada di layar komputermu ini menarik sekali!”

“Hah?”

 Tidak mungkin ada cewek yang merasa bahwa deretan huruf dan angka menarik! Cewek aneh!

“Ah, maksudku, huruf dan angka yang ada di layar komputermu ini sangat banyak dan ribet sekali. Aku hanya penasaran apa yang kamu lakukan dengan ini.” balas gadis itu dengan tersenyum.
 “Gua hanya ngeprogram doang, kok! Nggak ada hal yang spesial.” ucap Andre sambil menghampiri mejanya. “Lu nggak ngelakuin apa-apa saat gua pergi, kan?” Andre menatap gadis itu tajam.
“Tidak! Percayalah! Aku nggak ngelakuin apa-apa!”
“Oke, sekarang lu boleh pergi. Gua mau ngelanjutin pekerjaan gua. Gua nggak suka kalau ada yang ganggu.” Andre menarik kursinya dan duduk. Ia pun kembali ke aktivitasnya semula. Gadis itu… Ngapain dia harus di sini? Sebagai gadis pujaan cowok-cowok di sekolah ini, seharusnya dia sudah pulang. Risa Debora… Gadis yang aneh…
“Kamu lagi ngapain, sih, Dre?”

Andre menolehkan kepalanya. Risa sedang berdiri di sebelahnya menatap mata Andre lurus.

“Bukannya udah gua bilang, gua lagi ngeprogram.” jawab Andre sinis.
“Maksud aku, kamu lagi buat apa sekarang. Game? Program?”
“Gua lagi buat game. Deadline gua minggu depan dan masih banyak yang belum gua selesai-in.” Andre tetap melanjutkan aktivitasnya. Walaupun keberadaan Risa mengganggunya, tapi pekerjaannya harus selesai secepatnya.
“Aaah! Game! Aku dan adikku suka main game.” ujar Risa senang. “Kamu sudah buat berapa game, Dre?”
“Gua? Gua baru buat 1 game aja, sih.”
“Namanya apa, Dre?”
“The Tales of Falliendriel.”
“Eh? Bukannya itu yang buat beda namanya dengan kamu, Dre?”
“Nama gua di dunia pemograman Felix Subyanto.” jawab Andre santai.

BRAAAKKK

“Kamu… Felix Subyanto?” ucap Risa setengah tidak percaya. Risa yang sekarang duduk di lantai karena terjatuh sukses membuat Andre kaget. “Bu… bu… bukannya… dia berumur 22 tahun ya sekarang?”
“Ah, lu tau juga soal Felix? Itu hanya identitas palsu doang, kok. Biar orang nggak tahu siapa gua, makanya gua pakai identitas palsu. Gua harus punya kehidupan yang tenang kalau mau buat program yang bagus.”

Tangan Risa menyambar tangan Andre setelah Andre menutup mulutnya. Mata Risa menatap Andre dengan lurus untuk kesekian kalinya.

“Dre, aku suka banget sama game yang kamu buat! Rasanya seperti mimpi bisa ketemu pembuat TToF (singkatan The Tales of Falliendriel) dan aku nggak nyangka banget ternyata yang buat itu sekelas sama aku!”

Andre terdiam melihat tingkah Risa. Bisa juga cewek idaman cowok-cowok di kelasnya suka main game buatan dia. Sedikit mengangetkan tapi sebagai programmer, dia juga merasa bangga. Ternyata game buatannya bisa menarik hati berbagai kalangan.

“Ma… Makasih…” Andre menarik tangannya dan segera membetulkan kacamatanya. Jangan sampai Risa melihat muka tersipunya.
“Dre, aku boleh nggak lihat workshop kamu?”

Andre menoleh dan menatap Risa. Workshop? Buat apa?

“Errr, aku sudah lama banget penasaran dengan workshop orang yang buat game dan sejenisnya. Boleh nggak, Dre?”

 ---

Tadaaa :)
Cerita ini bersambung di sini dulu. Apakah Andre membolehkan Risa atau nggak, tunggu aja di cerita yang ke 2 yang saya nggak tau bakal post kapan -__- .
Ciao all :D


A story is a letter that the author writes to himself, to tell himself things that he would be unable to discover otherwise.
Carlos Ruin Zafon

Labels: ,

Back to top


Copyright ©. Layout by SekarYoshioka. Header : Pixiv and edited by SekarYoshioka. Please view it with Google Chrome 1024*768. All rights reserved.